enjoy it!
------------------------------------------------------------------------------------------------
Sora tak menyadari lanigit yang mulai gelap. Jarinya terus menekan tuts tuts piano di ruang musik SMA Teitou Gakuen, mengalirkan nada nada yang harmonis.
Kali ini ia memainkan für elise, setelah menulis dan memainkan nada buatannya sendiri. Gerakan jarinya terhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata, selain berbakat bermain piano, tangannya juga berbakat membuat seseorang dikirim ke rumah sakit terdekat.
Grek! Pintu terbuka.
Hampir saja Sora melayangkan tinjunya, tapi dengan cepat ia menahannya.
“Lho, Kitami? Kenapa masih disini?”
“Ah, tadi aku ketiduran di atap, lalu terbangun oleh für elise-mu...” kata Aoi setelah lama nge-blank karena hampir ditonjok.
“Waah, maaf mengganggu tidur siangmu...”
“Nggak apa. Justru gawat kalau Yuizaki nggak ngebangunin aku. Lihat, langit sudah gelap, tuh!” balas Aoi sambil menunjuk keluar jendela.
“Wuaah... benar! Duh, aku keasyikan main!” seru Sora sambil membereskan kertas partitur kosong yang berantakan.
“Kenapa Yuizaki masih disini?”
“Tentu saja main piano.”
“Lho bukankah di rumahmu bisa?”
“Di rumahku nggak ada piano...”
“Hm...” gumam Aoi. ‘Ini aneh. Setahuku keluarga Yuizaki sangat kaya, sehingga mudah saja bagi mereka membeli grand piano sekalipun. Harusnya kalau orangtuanya menyetujui, mereka minimal membelikannya upper piano...’ pikir Aoi.
“Kitami, kok bengong?”
“Ng... nggak. Yuizaki mau pulang ‘kan?”
“He-eh,” jawab Sora sambil menenteng tasnya.
“Kuantar naik sepeda mau kan?”
“Eh, nggak usah! Nanti merepotkan!” tolak Sora.
“Tapi bahaya gadis sepertimu jalan sendirian di malam hari...”
“Mungkin nggak buatku. Gini gini aku pernah ikut tae kwon do sampai sabuk hitam, lho,” ucap Sora bangga sambil tertawa kecil.
“Pokoknya aku nganter Yuizaki, titik!” potong Aoi. Kedengaran kekanakan, memang, tapi ucapan itu membuat Sora tersenyum senang.
“Ya udah. Kamu duluan aja, aku ngunci ruangan ini dulu,” kata Sora akhirnya.
“Hm. Kutunggu di loker sepatu.” Aoi lalu menuruni tangga. Ruang musik itu memang ada di lantai 2, tepat di bawah atap.
Sora mengunci ruang musik. Setelah itu, ia memeriksa hp nya sambil menuruni tangga. Ada satu pesan yang baru masuk sekitar 15 menit yang lalu.
From: Ibu
Kamu dimana? Kenapa belum pulang?
-end-
‘Cih,’ batin Sora.
“ Yuizaki, ayo. Nanti tambah larut,” tegur Aoi saat Sora terus memandangi pesan tadi.
“Iya...”
Sora dan Aoi lalu berjalan ke tempat parkir sepeda. Terlihat sebuah sepeda hitam dengan boncengan di belakangnya.
“Yuk, naik!” kata Aoi mengagetkan Sora yang melamun.
“Seriusan naik ini? Aku berat lho!” goda Sora.
“Ayo, nggak apa apa...”
Sora akhirnya naik ke sepeda itu.
“Rumah Yuizaki di mana?”
“Ah di komplek Chou Chou blok A.”
“Hmm... berarti lewat pertokoan Ajisai, ya?”
“Yep!”
Aoi terus mengayuh sepedanya, sementara Sora hanya menikmati angin musim dingin yang menyentuh kulitnya. Aoi lalu berhenti di toko ramen di pertokoan Ajisai.”He? Kok berhenti?” tanya Sora.
“Aku lapar.ramen disini enak lho, kutraktir ya?” tawar Aoi.
“Eh tapi aku... nggak lapar...”
Kruyuuk
‘Great, perutku sudah tidak kompak,’ rutuk Sora pelan.
“Hahaha... keliatan bohongnya, tuh! Ayo masuk!”
***
Selesai makan , Aoi mengantar Sora sampai depan rumahnya.
Rumah keluarga Yuizaki memang cukup besar. Halamannya dikelilingi pepohonan yang rindang.
“Makasih ya, udah ngantr sampai sini.... Oh ya, rumah Kitami di mana?”
“Ah, rumahku di komplek Chamomile...”
“Eh?! Kalau gitu berlawanan dengan rumahku dong?! Uwaa, maaf kamu jadi repot balik arah...” potong Sora.
“Never mind, hehe. Nah, aku pulang dulu...” kata Aoi sambil memutar balik sepedanya.
“Iya, makasih banyak. Hati hati di jalan!”
Sora membuka pintu rumahnya perlahan.
“Darimana saja kamu?” tanya wanita berusia setengah baya, yang tak lain adalah ibunya, Shizue Himeno, atau Shizue Yuizaki. Matanya sama sekali tak lepas dari laptopnya.
“Habis ekskul, bu,” dusta Sora.
“Sebaiknya kau berhenti saja dengan kegiatanmu yang nggak penting. Ingat, kau harus fokus agar bisa meneruskan perusahaan kita dan...”
“Menjaga nama baik keluarga, ya bu, aku tahu itu. Aku ke kamar dulu ya, selamat malam,” potong Sora dingin. Kalimat itu sudah ia hapal mati. Sebenarnya, kalau mood-nya sudah jelek, dia takkan memakai sopan-santunnya.
Sora menaiki tangga menuju kamarnya. Sebelumnya, ia masuk ke sebuah ruangan di seberang kamarnya. Ruangan itu tetap kosong, meski Sora berharap ‘benda itu’ ada disitu setiap kali ia melongok ke ruangan kosong tersebut.
Ia lalu masuk ke kamarnya, meletakkan tas di kursi meja belajarnya, dan berganti baju. Ia lalu merebahkan dirinya di atas kasurnya yang empuk berwarna biru.
-----------------------------------------------------------------------------------------