Cari Blog Ini

Minggu, 19 Desember 2010

Wishing to The Star~ part 01

This is the sequel of "The Blue Sky"
enjoy it!
------------------------------------------------------------------------------------------------

Sora tak menyadari lanigit yang mulai gelap.  Jarinya terus menekan tuts tuts piano di ruang musik SMA Teitou Gakuen, mengalirkan nada nada yang harmonis.
            Kali ini ia memainkan für elise, setelah menulis dan memainkan nada buatannya sendiri.  Gerakan jarinya terhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat.  Ternyata, selain berbakat bermain piano, tangannya juga berbakat membuat seseorang dikirim ke rumah sakit terdekat.
Grek! Pintu terbuka.
Hampir saja Sora melayangkan tinjunya, tapi dengan cepat ia menahannya.
“Lho, Kitami? Kenapa masih disini?”
“Ah, tadi aku ketiduran di atap, lalu terbangun oleh für elise-mu...” kata Aoi setelah lama nge-blank karena hampir ditonjok.
“Waah, maaf mengganggu tidur siangmu...”
“Nggak apa.  Justru gawat kalau Yuizaki nggak ngebangunin aku.  Lihat, langit sudah gelap, tuh!” balas Aoi sambil menunjuk keluar jendela.
“Wuaah... benar!  Duh, aku keasyikan main!” seru Sora sambil membereskan kertas partitur kosong yang berantakan.
“Kenapa Yuizaki masih disini?”
“Tentu saja main piano.”
“Lho bukankah di rumahmu bisa?”
“Di rumahku nggak ada piano...”
“Hm...” gumam Aoi.  ‘Ini aneh.  Setahuku keluarga Yuizaki sangat kaya, sehingga mudah saja bagi mereka membeli grand piano sekalipun.  Harusnya kalau orangtuanya menyetujui, mereka minimal membelikannya upper piano...’ pikir Aoi.
“Kitami, kok bengong?”
“Ng... nggak.  Yuizaki mau pulang ‘kan?”
“He-eh,” jawab Sora sambil menenteng tasnya.
“Kuantar naik sepeda mau kan?”
“Eh, nggak usah! Nanti merepotkan!” tolak Sora.
“Tapi bahaya gadis sepertimu jalan sendirian di malam hari...”
“Mungkin nggak buatku.  Gini gini aku pernah ikut tae kwon do sampai sabuk hitam, lho,” ucap Sora bangga sambil tertawa kecil.
“Pokoknya aku nganter Yuizaki, titik!” potong Aoi.  Kedengaran kekanakan, memang, tapi ucapan itu membuat Sora tersenyum senang.
“Ya udah.  Kamu duluan aja, aku ngunci ruangan ini dulu,” kata Sora akhirnya.
“Hm.  Kutunggu di loker sepatu.”  Aoi lalu menuruni tangga.  Ruang musik itu memang ada di lantai 2, tepat di bawah atap.
            Sora mengunci ruang musik.  Setelah itu, ia memeriksa hp nya sambil menuruni tangga.  Ada satu pesan yang baru masuk sekitar 15 menit yang lalu.

From: Ibu

Kamu dimana? Kenapa belum pulang?

-end-


‘Cih,’ batin Sora.
“ Yuizaki, ayo.  Nanti tambah larut,” tegur Aoi saat Sora terus memandangi pesan tadi.
“Iya...”
Sora dan Aoi lalu berjalan ke tempat parkir sepeda.  Terlihat sebuah sepeda hitam dengan boncengan di belakangnya.
“Yuk, naik!” kata Aoi mengagetkan Sora yang melamun.
“Seriusan naik ini? Aku berat lho!” goda Sora.
“Ayo, nggak apa apa...”
Sora akhirnya naik ke sepeda itu.
“Rumah Yuizaki di mana?”
“Ah di komplek Chou Chou blok A.”
“Hmm... berarti lewat pertokoan Ajisai, ya?”
“Yep!”
Aoi terus mengayuh sepedanya, sementara Sora hanya menikmati angin musim dingin yang menyentuh kulitnya.  Aoi lalu berhenti di toko ramen di pertokoan Ajisai.”He? Kok berhenti?” tanya Sora.
“Aku lapar.ramen disini enak lho, kutraktir ya?” tawar Aoi.
“Eh tapi aku... nggak lapar...”
Kruyuuk
‘Great, perutku sudah tidak kompak,’ rutuk Sora pelan.
“Hahaha... keliatan bohongnya, tuh! Ayo masuk!”
***
            Selesai makan , Aoi mengantar Sora sampai depan rumahnya.
Rumah keluarga Yuizaki memang cukup besar.  Halamannya dikelilingi pepohonan yang rindang.
“Makasih ya, udah ngantr sampai sini.... Oh ya, rumah Kitami di mana?”
“Ah, rumahku di komplek Chamomile...”
“Eh?! Kalau gitu berlawanan dengan rumahku dong?! Uwaa, maaf kamu jadi repot balik arah...” potong Sora.
“Never mind, hehe.  Nah, aku pulang dulu...” kata Aoi sambil memutar balik sepedanya.
“Iya, makasih banyak.  Hati hati di jalan!”
            Sora membuka pintu rumahnya perlahan.
“Darimana saja kamu?” tanya wanita berusia setengah baya, yang tak lain adalah ibunya, Shizue Himeno, atau Shizue Yuizaki.  Matanya sama sekali tak lepas dari laptopnya.
“Habis ekskul, bu,” dusta Sora.
“Sebaiknya kau berhenti saja dengan kegiatanmu yang nggak penting.  Ingat, kau harus fokus agar bisa meneruskan perusahaan kita dan...”
“Menjaga nama baik keluarga, ya bu, aku tahu itu.  Aku ke kamar dulu ya, selamat malam,” potong Sora dingin.  Kalimat itu sudah ia hapal mati.  Sebenarnya, kalau mood-nya sudah jelek, dia takkan memakai sopan-santunnya.
            Sora menaiki tangga menuju kamarnya.  Sebelumnya, ia masuk ke sebuah ruangan di seberang kamarnya.  Ruangan itu tetap kosong, meski Sora berharap ‘benda itu’ ada disitu setiap kali ia melongok ke ruangan kosong tersebut.
            Ia lalu masuk ke kamarnya, meletakkan tas di kursi meja belajarnya, dan berganti baju.  Ia lalu merebahkan dirinya di atas kasurnya yang empuk berwarna biru.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 28 November 2010

The Blue Sky

waaw.. ini cerita pertama yang saya upload ke blogger...
enjoy it....
***
Sora menatap halaman sekolah dengan tatapan kosong.  Gadis itu berada di atap setelah pelajaran seni musik, satu satunya pelajaran favoritnya.  Pandangannya lalu menyapu seisi atap.  Tanpa disadarinya, sekitar 10 m darinya ada seorang cowok.  cowok itu, yang tadinya terus mambaca buku, menoleh dan tersenyum pada Sora.

Sora  lalu ingat percakapan dengan temannya beberapa hari lalu.
"Kau tahu Kitami Aoi?" kata Nami, teman Sora.
"Iya, lah! dia kan teman sekelas kita.  Memangnya kenapa?" tanya Sora cuek.  Sora adalah tipe cewek cuek.  Otaknya selalu kosong, seperti isi sel gabus, tapi ia cukup baik dalam pelajaran sehingga meraih peringkat 5 besar di sekolahnya.
"Baru baru ini aku dengar, ternyata dia itu murid jenius yang sudah menamatkan kuliah di jurusan astronomi.  Selain itu, ia pun menguasai pelajaran lainnya, lho!"
“Bahkan ia pernah ditawari untuk bekerja di lembaga antariksa negara lho, saking jeniusnya!” tambah Rui.
"Lalu, kenapa ia memutuskan menjadi siswa SMA?"
"Yaah, katanya dia ingin menikmati masa SMA, karena ia belum sempat merasakannya.  Sebaiknya kau jangan mendekatinya, dia orang aneh, tahu!"
-flashback end-
Sora duduk di atap itu.  Pandangannya tetap kosong, sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Kenapa Yuizaki disini? bukankah pelajaran sudah mulai?" Sora menoleh.  Ternyata Aoi yang menepuk pundaknya.  Sora pun memandang ke bawah lagi dengan kosong.
“Malas saja.  Kau sendiri kenapa ada di sini?” balas Sora, cuek.
“Ah.. tadi aku diusir Tomoya sensei gara gara aku mengoreksi kesalahannya,” jelas Aoi dengan tampang bingung.  Aoi pun duduk di sebelah Sora.
“Kau sedang melihat apa sih?”
“Tidak… aku tidak melihat apapun.  Hanya memandang kosong halaman sekolah.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka berdua.
“Hei, Yuizaki, kalau kuperhatikan keningmu selalu berkerut, ya?”
“Biar saja.  Itu bukan urusanmu,” balas Sora dengan nada dingin.
“Kenapa sih, kamu ketus begitu?! Menyebalkan tahu!” pancing Aoi.  Ia sengaja ingin membuat Sora meledak.
‘Mungkin kalau dia meledak, masalahnya akan terlupakan..” pikir Aoi,
“Biar saja.  Kalau kau tak suka aku, menjauhlah!”
            Aoi mulai kehilangan kesabaran. Ia lalu mendorong Sora sampai Sora tergeletak di tanah.
“HEI! APA-APAAN….” Aoi menutup mata Sora dengan tangannya.
“Tenanglah…. Tidak apa apa…” kata Aoi dengan suara lembut.  Entah kenapa, Sora langsung tenang.
“Tanganmu dingin, ya… menyejukkan…” gumam Sora.
“Kau sepertinya punya banyak masalah ya?”
“ Darimana kau tahu?” tanya Sora.  Matanya masih ditutup oleh tangan Aoi.
“Sebenarnya aku ngambil double degree di jurusan psikologi.  Jadi aku cukup banyak tahu tentang manusia.”
“Kamu enak sekali, ya? Jenius, pasti orang tuamu bangga.  Yah, aku memang punya banyak masalah, sih…”
“Boleh kutahu masalahmu? Mungkin aku bisa membantu…”
“Akhir akhir ini… hatiku merasa sempit.  Gampang marah, juga gampang bengong.  Mungkin karena tertekan…” kata Sora sambil tersenyum kecut.
“Apa yang membuatmu tertekan?”
“Orang tuaku… terlalu banyak mengaturku.  Pulang sekolah pasti aku sibuk dengan macam macam les, seperti les pelajaran, balet, merangkai bunga, minum teh… banyak sekali!  Dadaku sampai sesak memikirkan itu semua!  Segala kegiatanku di atur, sampai aku tak punya waktu untuk beristirahat melakukan apa yang kusukai! Menyebalkan!” Sora meledak.  Aoi terkejut.
“Kau mirip denganku, ya?”
“Apa maksudmu?!”
“Sebenarnya dulu pun aku disuruh jadi dokter oleh keluargaku, untuk meneruskan usaha keluarga.  Setiap hari, selalu dijejali dengan buku kedokteran, video operasi, sampai rasanya mau meledak!”
“Lalu kenapa kamu malah mengambil jurusan astronomi?! Apa kamu nggak ditentang orang tuamu?! Dan kenapa kamu bisa seceria itu, meski dengan tekanan dari keluargamu…”
“Karena aku… menyukai langit…”
“Ha?”
“Setelah lelah dengan kegiatan itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah.  Aku menemukan pondok di desa kecil.  Dan saat aku berbaring di rumput, akku melihat langit, dan dengan caranya sendiri, langit membuat hatiku luas, dan membuatku tertarik.  Orang tuaku akhirnya menyetujui aku untuk masuk jurusan astronomi….” Kata Aoi sambil tersenyum.  Ia lalu membuka mata Sora.
            Sora lalu melihat langit berwarna biru cerah tak berawan.  Tiba tiba air matanya menetes.
“Ah…. Entah kenapa hatiku jadi lega…. Aku ingin hatiku seluas dan sejernih langit biru….” Sora tersenyum.
“Kalau kau merasa hatimu sempit, tataplah langit.  Dengan caranya sendiri, langit dapat membuat hatimu lapang,” kata  Aoi sambil melihat langit dan tersenyum.  Sora lalu berdiri.
“Terima kasih, Kitami! Aku harus melakukan sesuatu!” Sora lalu berlari kebawah.  Ia lalu masuk ke ruang seni musik yang kosong, dan membuka tutup pianonya.
            Jari Sora bergerak lincah menekan tuts tuts piano memainkan melodi yang indah dan harmonis.  Ia tak sadar bahwa permainan pianonya terdengar ke seluruh penjuru sekolah.  Melodi yang ia ciptakan sendiri mengundang para siswa untuk melihat orang yang berada di ruang musik.
‘Terima Kasih, Aoi…’ batin Sora.
***
A Few Days Later
            Sora menghampiri Aoi yang tengah menatap langit.
“Cuaca hari ini cerah ya?” sapa Sora.  Aoi menoleh.
“Ya,” Aoi terdiam sebentar. “Sekarang keningmu nggak berkerut lagi, ya?” Sora duduk di sebelah Aoi
“Ah, yah.... orang tuaku sudah menyetujuiku yang ingin fokus ke piano..." jelas Sora, namun ia tak berani menatap mata Aoi.
“Hm...” gumam Aoi.  'Ia tak berani melakukan kontak mata denganku.  Jangan jangan ia bohong...?' pikir Aoi.
"Tapi permainan Yuizaki bagus, aku suka sekali!" puji Aoi.
“Ya.  Ini semua berkat kau. Aku sekarang jadi senang membuat lagu saat menatap langit.  Terima kasih banyak, Kitami!” Sora tersenyum lebar.
“Kamu memang manis kalau tersenyum,” kata Aoi sambil tersenyum.  Deg! Jantung Sora berdetak kencang.
“Ah! Aku harus ke ruang guru,” kata Sora sambil buru buru berdiri.  Entah kenapa Sora merasa aneh dengan suasana seperti tadi.
“Yuizaki, tunggu!”
“Ya?”
“Maukah kau… melihat langit bersama sama tiap hari?!” tanya Aoi dengan wajah gugup.
“Hihihi…. Aoi aneh! Tentu saja!” Sora terkikik geli.  Perasaan tadi jadi lenyap begitu saja.
‘Let this feeling flows slowly... under the blue sky...'  batin Sora sambil tersenyum ke arah langit


Sabtu, 13 November 2010

Halo!

Halo! saya baru bikin blog nih!
Mungkin isinya kata kata geje atau cerita cerita karangan saya...