enjoy it....
***
Sora menatap halaman sekolah dengan tatapan kosong. Gadis itu berada di atap setelah pelajaran seni musik, satu satunya pelajaran favoritnya. Pandangannya lalu menyapu seisi atap. Tanpa disadarinya, sekitar 10 m darinya ada seorang cowok. cowok itu, yang tadinya terus mambaca buku, menoleh dan tersenyum pada Sora.
Sora lalu ingat percakapan dengan temannya beberapa hari lalu.
"Kau tahu Kitami Aoi?" kata Nami, teman Sora.
"Iya, lah! dia kan teman sekelas kita. Memangnya kenapa?" tanya Sora cuek. Sora adalah tipe cewek cuek. Otaknya selalu kosong, seperti isi sel gabus, tapi ia cukup baik dalam pelajaran sehingga meraih peringkat 5 besar di sekolahnya.
"Baru baru ini aku dengar, ternyata dia itu murid jenius yang sudah menamatkan kuliah di jurusan astronomi. Selain itu, ia pun menguasai pelajaran lainnya, lho!"
“Bahkan ia pernah ditawari untuk bekerja di lembaga antariksa negara lho, saking jeniusnya!” tambah Rui.
"Lalu, kenapa ia memutuskan menjadi siswa SMA?"
"Yaah, katanya dia ingin menikmati masa SMA, karena ia belum sempat merasakannya. Sebaiknya kau jangan mendekatinya, dia orang aneh, tahu!"
-flashback end-
Sora duduk di atap itu. Pandangannya tetap kosong, sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Kenapa Yuizaki disini? bukankah pelajaran sudah mulai?" Sora menoleh. Ternyata Aoi yang menepuk pundaknya. Sora pun memandang ke bawah lagi dengan kosong.
“Malas saja. Kau sendiri kenapa ada di sini?” balas Sora, cuek.
“Ah.. tadi aku diusir Tomoya sensei gara gara aku mengoreksi kesalahannya,” jelas Aoi dengan tampang bingung. Aoi pun duduk di sebelah Sora.
“Kau sedang melihat apa sih?”
“Tidak… aku tidak melihat apapun. Hanya memandang kosong halaman sekolah.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka berdua.
“Hei, Yuizaki, kalau kuperhatikan keningmu selalu berkerut, ya?”
“Biar saja. Itu bukan urusanmu,” balas Sora dengan nada dingin.
“Kenapa sih, kamu ketus begitu?! Menyebalkan tahu!” pancing Aoi. Ia sengaja ingin membuat Sora meledak.
‘Mungkin kalau dia meledak, masalahnya akan terlupakan..” pikir Aoi,
“Biar saja. Kalau kau tak suka aku, menjauhlah!”
Aoi mulai kehilangan kesabaran. Ia lalu mendorong Sora sampai Sora tergeletak di tanah.
“HEI! APA-APAAN….” Aoi menutup mata Sora dengan tangannya.
“Tenanglah…. Tidak apa apa…” kata Aoi dengan suara lembut. Entah kenapa, Sora langsung tenang.
“Tanganmu dingin, ya… menyejukkan…” gumam Sora.
“Kau sepertinya punya banyak masalah ya?”
“ Darimana kau tahu?” tanya Sora. Matanya masih ditutup oleh tangan Aoi.
“Sebenarnya aku ngambil double degree di jurusan psikologi. Jadi aku cukup banyak tahu tentang manusia.”
“Kamu enak sekali, ya? Jenius, pasti orang tuamu bangga. Yah, aku memang punya banyak masalah, sih…”
“Boleh kutahu masalahmu? Mungkin aku bisa membantu…”
“Akhir akhir ini… hatiku merasa sempit. Gampang marah, juga gampang bengong. Mungkin karena tertekan…” kata Sora sambil tersenyum kecut.
“Apa yang membuatmu tertekan?”
“Orang tuaku… terlalu banyak mengaturku. Pulang sekolah pasti aku sibuk dengan macam macam les, seperti les pelajaran, balet, merangkai bunga, minum teh… banyak sekali! Dadaku sampai sesak memikirkan itu semua! Segala kegiatanku di atur, sampai aku tak punya waktu untuk beristirahat melakukan apa yang kusukai! Menyebalkan!” Sora meledak. Aoi terkejut.
“Kau mirip denganku, ya?”
“Apa maksudmu?!”
“Sebenarnya dulu pun aku disuruh jadi dokter oleh keluargaku, untuk meneruskan usaha keluarga. Setiap hari, selalu dijejali dengan buku kedokteran, video operasi, sampai rasanya mau meledak!”
“Lalu kenapa kamu malah mengambil jurusan astronomi?! Apa kamu nggak ditentang orang tuamu?! Dan kenapa kamu bisa seceria itu, meski dengan tekanan dari keluargamu…”
“Karena aku… menyukai langit…”
“Ha?”
“Setelah lelah dengan kegiatan itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku menemukan pondok di desa kecil. Dan saat aku berbaring di rumput, akku melihat langit, dan dengan caranya sendiri, langit membuat hatiku luas, dan membuatku tertarik. Orang tuaku akhirnya menyetujui aku untuk masuk jurusan astronomi….” Kata Aoi sambil tersenyum. Ia lalu membuka mata Sora.
Sora lalu melihat langit berwarna biru cerah tak berawan. Tiba tiba air matanya menetes.
“Ah…. Entah kenapa hatiku jadi lega…. Aku ingin hatiku seluas dan sejernih langit biru….” Sora tersenyum.
“Kalau kau merasa hatimu sempit, tataplah langit. Dengan caranya sendiri, langit dapat membuat hatimu lapang,” kata Aoi sambil melihat langit dan tersenyum. Sora lalu berdiri.
“Terima kasih, Kitami! Aku harus melakukan sesuatu!” Sora lalu berlari kebawah. Ia lalu masuk ke ruang seni musik yang kosong, dan membuka tutup pianonya.
Jari Sora bergerak lincah menekan tuts tuts piano memainkan melodi yang indah dan harmonis. Ia tak sadar bahwa permainan pianonya terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Melodi yang ia ciptakan sendiri mengundang para siswa untuk melihat orang yang berada di ruang musik.
‘Terima Kasih, Aoi…’ batin Sora.
***
A Few Days Later
Sora menghampiri Aoi yang tengah menatap langit.
“Cuaca hari ini cerah ya?” sapa Sora. Aoi menoleh.
“Ya,” Aoi terdiam sebentar. “Sekarang keningmu nggak berkerut lagi, ya?” Sora duduk di sebelah Aoi
“Ah, yah.... orang tuaku sudah menyetujuiku yang ingin fokus ke piano..." jelas Sora, namun ia tak berani menatap mata Aoi.
“Hm...” gumam Aoi. 'Ia tak berani melakukan kontak mata denganku. Jangan jangan ia bohong...?' pikir Aoi.
"Tapi permainan Yuizaki bagus, aku suka sekali!" puji Aoi.
“Ya. Ini semua berkat kau. Aku sekarang jadi senang membuat lagu saat menatap langit. Terima kasih banyak, Kitami!” Sora tersenyum lebar.
“Kamu memang manis kalau tersenyum,” kata Aoi sambil tersenyum. Deg! Jantung Sora berdetak kencang.
“Ah! Aku harus ke ruang guru,” kata Sora sambil buru buru berdiri. Entah kenapa Sora merasa aneh dengan suasana seperti tadi.
“Yuizaki, tunggu!”
“Ya?”
“Maukah kau… melihat langit bersama sama tiap hari?!” tanya Aoi dengan wajah gugup.
“Hihihi…. Aoi aneh! Tentu saja!” Sora terkikik geli. Perasaan tadi jadi lenyap begitu saja.
‘Let this feeling flows slowly... under the blue sky...' batin Sora sambil tersenyum ke arah langit