Mata Sora kecil melebar ketika sebuah grand piano diletakkan di ruangan tepat di depan kamarnya.
“Ayah, ini apa?” tanya Sora kecil saat ayahnya duduk di depan piano itu.
“Ini piano, dengar, benda ini bisa menghasilkan suara yang indah!”
Ayahnya lalu memainkan twinkle-twinkle little star. Mata Sora kecil selalu mengikuti gerakan jari ayahnya yang menari di atas piano.
“Wuah! Sora boleh coba?!”
“Tentu!”
Betapa terkejutnya ayahnya—juga ibunya yang baru naik ke atas bersama cemilan, melihat Sora memainkan twinkle-twinkle little star dengan indah. Saat itu Sora baru 6 tahun dan ia berhasil memainkan pianonya.
“Nampaknya bakatmu mengalir dalam darah anak kita, ya?” kata Shizue.
“Hm... sepertinya aku harus mengasahnya lagi,” kata sang suami sambil tersenyum penuh semangat.
“Gimana?” tanya Sora kecil. Ayah dan ibunya langsung memelukny, sambil berkata,
“Indah sekali, sayang!”
“Ayah, mulai sekarang, Sora mau belajar piano, aku ingin jadi pianis hebat seperti ayah!”
“Hm! Ayah akan mengajarimu dengan keras, kau siap?” tanya ayahnya sambil menepuk kepala Sora kecil.
“Ya!”
Umur 8 tahun Sora sudah menguasai lagu lagu sulit. Ia lalu tammpil pertama kali dalam concour saat usianya 10 tahun. Umur 12 tahun, ia sudah dapat sabuk hitam dari Tae Kwon Do. Semua berjalan lancar pada awlanya...
...Namun hidupnya mulai menghadapi rintangan....
Saat Sora berumur 13 tahun, ayah yang paling ia sayangi meninggal dunia karena kecelakaan. Ibunya yang dahulu berjiwa muda, dan sudah seperti sahabat sendiri menjadi seorang workaholic, karena depresi atas kematian sang suami yang mendadak, dan ia membuang grand pianonya....cita citanya...
***
“Ayah! Ayah, bangun!!!!”
“Sora...Hentikan...”
“Nggak mau... hiks! SORA NGGAK MAU AYAH PERGI!!!”
“HENTIKAN SORA!KAU MEMBUAT SEMUANYA JADI SULIT!!!”
“huu... hiks!!ibu, jangan buang piano itu!! IBU JANGAN...”
Sret!
Sora bangun dari tidurnya.
“hhh... mimpi masa lalu...” gumam Sora.
Semenjak ayahnya meninggal, ia selalu dijejali berbagai macam les agar kelak menjadi penerus ibunya, penerus perusahaan yang turun temurun dipunyai keluarga ibunya, “Himeno Group”.
Sora lalu menatap langit dari jendelanya. Sinar bulan menerangnya dengan lembut, sehingga mampu membuatnya tertidur kembali.
***
“Hee? Melihat hujan meteor?” tanya Sora.
“Hn! Aku ingin melihatnya bersama Yuizaki!” kata Aoi.
“Hari ini, ya? Mendadak sekali....”
“Maaf deh. Tadinya mau kukasih tahu kemarin, tapi aku lupa...” sesal Aoi.
Sora merenung sebentar. Ia teringat memo yang ditulis ibunya.
‘Sora hari ini kamu harus pulang cepat, karena ada calon relasi perusahaan kita yang akan datang bertamu. Dia datang jam 8. Kamu harus biasa dengannya karena kelak kau akan menjadi penerus perusahaan Himeno.’'
“Gimana Yuizaki? Nggak juga nggak a...”
“Aku ikut!” potong Sora cepat.
“Begitu? Baguslah!”
“Jam berapa mulainya?”
“Sekitar jam setengah sembilan. Gimana?”
“Bisa...” jawab Sora pelan.
***
Sora merapatkan mantelnya. Ia lalu melirik jam dinding di kamarnya.
“Jam 8 kurang 10,” batinnya.
Ia lalu mengambil syal, dan melingkarkannnya di leher. Wajar ia memakai semua itu karena pada malam itu udara cukup dingin, meski sudah masuk bulan Januari.
Kemudian, Sora merapikan kasurnya. Ia lalu membuka jendelanya, dan menaiki dahan pohon yang ada di dekat jendelanya, lalu melompati benteng rumahnya.
“Aman!”
Ia lalu berlari ke tempat mereka janjian, yaitu Teitou Gakuen. Sepi, tentu saja. Ia datang 5 menit lebih awal.
“Yuizaki, udah nunggu lama?” sahut suara di belakngnya.
”Nggak, aku baru nyampe...”
“Hm... kalau gitu, ayo naik!”
Aoi mengayuh sepedanya menuju bukit belakang sekolah.
“Eh, Kitami, ini isinya apa?” tanya Sora sambvil memegang tas berbentuk tabung.
”Itu isinya teleskop. Biar bisa melihat meteornya lebih jelas...”
“Oh... nanti aku juga mau coba ya?” ujar Sora antusias.
“Tentu...”
Aoi lalu menghentikan sepedanya. .
“Gimaana? Viewnya bagus kan?”
“Iya, keren banget!” sahut Sora.
Di bukit itu bintang terlihat jelas dan sangat luas, tanpa polusi cahaya yang berlebihan. Sora tak henti hentinya menatap langit sambil mendengar Aoi yang menunjuk bintang dan menyebutkan namanya.
Syuut!
“Wuah! Itu dia!!!” sahut mereka berdua bersamaan saat nelihat meteor yang jatuh pertama. Aoi lalu melihatnya dari teleskop yang sudah ia siapkan.
“Kitami, aku mau coba!” kata Sora. Sora terlihat sangat tertarik dan senang. Aoi hanya tersenyum melihatnya.
Sora lalu duduk di sebelah Aoi yang masih melihat meteor yang berjatuhan.
“Hm... aku ingin membuat permohonan...”
“Itu cuma mitos Yuizaki,” kata Aoi sambil terus melihat meteor dengan teleskopnya.
“Iya sih, tapi... ada satu hal yang aku ingin hal itu dikabulkan.”
“Apa itu?”
“Aku ingin.... terus main piano...” kata Sora sambil menatap jauh ke langit.
“Ah, satu lagi... aku juga ingin terus bersama Kitami ...” sambung Sora. Suasana yang cukup gelap saat itu tidak bisa membuat Sora melihat pipi Aoi yang sedikit bersemu merah.
Setelah Aoi mencatat sesuatu—dan Sora yang sudahselesai menulis music di partitur yang ia bawa di saku mantelnya, mereka pulang.
***
Aoi hendak mengantar SOra sampai depan rumahnya. Sekitar 50 meter sebelum sampai rumah Sora, seorang wanita paruh baya—bersama seorang pemuda, menyetop sepedanya.
“SORA?!DARIMANA SAJA KAMU?!” bentak wanita itu, yang tak lain adalah Shizue, ibu Sora.
Sora turun dari sepeda. Ia lalu membungkuk dalam dalam.
“Maaf ibu, maaf tuan Mizuno.”
Ibunya tak mengacuhkannya, lalu menghampiri Aoi.
”KAU?! KAU YANG MEMBUAT PUTRIKU JADI….”
Ucapan Shizue lalu terpotong oleh Sora yang langsung berdiri di antara mereka—menghalangi ibunya untuk lebih dekat lagi dengan Aoi.
“Kitami tak ada hubungannya, jangan melibatkan dia, bu.”
Shizue lalu melihat sesuatu yang menyembul dati saku mantel Sora. Ia langsung mengambilnya.
“APA INI?! KERTAS PARTITUR?! KAU MASIH BERANI MAIN PIANO, YA?!”
Shizue lalu merobek kertas partitur itu. Aoi lalu turun dari sepedanya.
“Tante, hentikan! Jangan hancurkan mimpi Yuizaki!”
Saat Aoi akan menghampiri Shizue, Sora lagi lagi menghalanginya.
“Kitami, pulanglah, kumohon,” pinta Sora sambil menunduk dan membelakangi Aoi. Suaranya bergetar, seperti mau menangis.
“Yuizaki…”
“Kumohon…” akhirnya Sora mengangkat wajahnya, lalu berbalik dan menatap Aoi.
“Aku akan baik baik saja, tenanglah,” ucap Sora yakin.
Aoi tak bisa berhenti melihat mata safir milik Sora. Tatapannya begitu kuat, dan sedikit berkaca kaca.
Sora lalu mendekat kepada ibunya, dan memegang pundak ibunya.
“Ibu, mari masuk. Kasihan tamu kita, sudah melihat kejadian yang tak mengenakkan,” ucap Sora lembut sambil tersenyum.
Seketika itu juga, Shizue langsung tenang melihat putrinya mulai bersikap semestinya sebagai calaon penerus Himeno Group. Sementara itu, Aoi hanya diam terpaku melihat perubahan sikap Sora.
Ia tahu betapa perihnya hati Sora saat Shizue merobek partiturnya, mimpinya.
Karena ia pernah merasakannya.
Sora kemudian menghampiri sang tamu.
“Maaf atas kejadian tak mengenakkan barusan, Tuan Mizuno Tennou…” kata Sora sambil membungkuk dalam. Tennou lalu memegang pundak Sora, menegakkan badannya.
“Tidak apa,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kalau begitu, mari masuk. Akan saya buatkan teh. Mari…”
Mereka bertiga masuk ke dalam, meninggalkan Aoi yang masih terpaku di luar.
Saat Aoi hendak mengayuh sepedanya, handphonenya bergetar. Ternyata ada sebuah e-mail singkat.
From: Yuizaki Sora
Maaf…dan terima kasih. Menyenangkan sekali hari ini.
-end-
Aoi lalu menghela nafas.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
***
Sora lalu menghidangkan teh buatannya. Ia lalu duduk di kursi di seberang Tennou.
“Jadi, mm… bagaimana tentang perusahaan kita?”
Shizue lalu menjelaskan tentang perusahaan mereka yang akan bekerja sama karena Himeno Group ingin menambah bidang usahanya, yaitu bidang kesehatan. Sedangkan perusahaan milik Tennou, yaitu Mizuno Group adalah perusahaan yang memiliki rumah sakit yang termasuk salah satu rumah sakit terbaik.
“Selain itu….” Shizue lalu menatap putrinya.
“Sora, kau akan ibu tunangkan dengannya, Mizuno Tennou.”
“Uh…uhuk!” Sora tersedak saat menyeruput tehnya.
“Maaf ibu, sepertimya saya salah de….”
“Ya, kau akan menjadi tunangan pewaris perusahaan Mizuno, Mizuno Tennou…”
Sora lalu melirik ke arah Tennou. Pria dengan rambut coklat itu tersenyum. Matanya yang tajam berwarna abu abu itu, sepertinya sudah banyak membuat para gadis terpesona.
Kecuali Sora, tunangannya sendiri.
“Bagaimana, Nona Yuizaki Sora?” tanya Mizuno.
Sora lalu melirik ibunya, mencari tatapan kau-boleh-menolaknya-jika-kau-keberatan darinya.
Namun nihil. Yang ia lihat hanya tatapan bilang-iya-saja.
Sora hanya mengangguk kecil. Ia tak berani menentang ibunya lagi.
‘Karena nantinya ibu hanya punya Sora.’
Sebaris kalimat itulah yang membuat ia terus menjalani semua dikte dari ibunya…
“Kalau begitu kita adakan pertunangan 2 minggu lagi…”
Semuanya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar